|
|
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang masalah
Penguasaan bahasa Inggris
merupakan persyaratan penting bagi keberhasilan individu, masyarakat dan bangsa
Indonesia dalam menjawab tantangan zaman pada tingkat global karena bahasa
Inggris merupakan bahasa global yang
digunakan oleh lebih dari separuh penduduk dunia. Disamping berperan sebagai
bahasa ilmu pengetahuan , teknologi dan seni,bahasa Inggris menjadi alat untuk
mencapai tujuan ekonomi perdagangan , hubungan antar bangsa, tujuan sosial
budaya dan pendidikan serta tujuan pengembangan karir. Oleh karena itu bahasa
memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual , sosial dan emosional siswa
dan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan mempelajaari bidang-bidang lain.
Dalam kehidupan
sehari-hari bahasa menjadi alat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun
tulisan. Makna komunikasi adalah upaya memahami dan mengungkapkan informasi ,
pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan , teknologi dan budaya
dengan menggunakan bahasa. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh
adalah menghasilkan teks lisan dan atau tulisan yang direalisasikan dalam empat
ketrampilan bahasa , yakni mendengarkan (listening), berbicara (speaking),
membaca (reading), dan menulis (writing). Keempat ketrampilan inilah yang
digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan
bermasyarakat.
|
1
|
Hal ini sejalan dengan yang di kemukakan oleh
(Halliday in Jack Richard; John Platt;
Heldi Weber,1985) bahwa memiliki
pengetahuan yang
memadai tentang komponen bahasa seperti
structure, vocabulary, pronounciation, intonation,as well as the field,
tenor, dan mode dalam berbahasa, akan menjadikan siswa lebih berhasil dengan
menggunakan bahasa dalam berkomunikasi.
Dari hasil penilaian yang telah di
lakukan di kelas VIII.2
SMP N 13
KDI menunjukan bahwa sekitar 80% dari 32
orang siswa memperoleh nilai
speaking di bawah KKM . Hal ini
mengindikasikan bahwa speaking adalah ketrampilan berbahasa sangat sulit untuk
di pelajari . siswa merasa kesulitan akibat dari keterbatasan pengetahuan dalam
komponen berbahasa dan juga keterbatasan dalam pemahaman tentang kultur social
budaya dari penutur asli dan konteks social budaya bahasa asing tersebut.
Tujuan
pembelajaran speaking menurut Brown (2001: 113) adalah agar para siswa
dapat berpartisipasi dalam percakapan singkat, memberi dan menjawab pertanyaan,
menemukan cara untuk menyampaikan maksud, mengumpulkan informasi dari yang lain,
dan masih banyak lagi. Anak usia sekolah dasar memiliki ciri tersendiri dalam
belajar, dibandingkan dengan pelajar dewasa.
Banyak pembicaraan
melibatkan interkasi dengan satu atau lebih pelaku. Berbicara yang efektif juga
meliputi pendengaran yang baik, sebuah pemahaman tentang bagaimana perasaan
pihak lain, dan sebuah pengetahuan tentang bagaimana aturan untuk mengambil
giliran atau membiarkan pihak lain untuk berbicara juga. Harmer (1997)
mengemukakan bahwa ada beberapa unsur dalam speaking, yaitu: keistimewaan
bahasa; pengelolaan bahasa; dan interaksi dengan pihak lain.
Pengajaran speaking di
SMP dimulai dari hal-hal yang termudah menuju hal yang kompleks, hal ini supaya
memudahkan siswa dalam perkembangan proses kemampuan berbicaranya, apalagi
dalam pembelajaran bahasa Inggris, karena bahasa Inggris adalah bahasa asing
bagi mereka yang pelafalan dan intonasinya berbeda dengan bahasa yang sudah
mereka ketahui sebelumnya.
Teknik
role play dalam proses pembelajaran digunakan untuk belajar tentang
pengenalan perasaan dan persoalan yang dihadapi siswa, dan untuk mengembangkan
kemampuan menyelesaikan masalah. Teknik role play diarahkan pada
pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia, terutama yang
menyangkut kehidupan siswa dan untuk memotivasi siswa agar lebih memperhatikan
materi yang sedang diajarkan.
Role play adalah
simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan, yang bertujuan untuk melatih
siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya; melatih praktik berbahasa lisan
secara intensif; dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
kemampuan berkomunikasi. Joyce dan Weil (2007: 70) menerangkan bahwa melalui
teknik role play, siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk
menghargai diri sendiri dan perasaan orang lain, mereka dapat belajar perilaku
yang baik untuk menangani situasi yang sulit, dan mereka dapat melatih kemampuan
mereka dalam memecahkan masalah
B.
Rumusan masalah dan Pemecahan Masalah
1.
Perumusan masalah
Ketepatan
memilih strategi pembelajaran menjadi penentu tingkat keberhasilan speaking
siswa. Peningkatan kemampuan speaking siswa, kususnya untuk jenis teks
transaksional dan interpersonal dapat dilakukan melalui strategi yang mendorong
keingintahuan siswa dan menarik untuk dilaksanakan. Strategi bermain peran
adalah alternatif yang digunakan dalam mendorong proses pembelajaran speaking dengan menekankan pada proses
berbicara itu sendiri. Pada penerapan strategi bermain peran ini, antara guru
dengan siswa atau siswa denagn siswa dapat berinteraksi terus- menerus pada
proses pembelajaran. Penerapan strategi bermain peran menjadi fokus penelitian
tindakan kelas ini
Berdasarkaan latar belakang masalah di atas maka rumusan
masalah yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana peningkatan
hasil belajar siswa setelah mendapatkan pembelajaran speaking dengan
menggunakan teknik bermain peran ?
2.
Pemecahan masalah
Berdasarkan
analisa dan refleksi pada masalah tersebut di atas , peneliti memutuskan
tekhnik bermain peran (role-play) dalam
proses belajar mengajar dapat meningkatkan kualitas siswa dalam keterampilan
berbicara dan kemampuan berbicara siswa dalam merespon pelaksanaan tekhnik bermain peran (role-play)
3.
Pertanyaan penelitian
Berdasaarkan
rumusan masalah diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.
Apakah hasil belajar speaking siswa dengan menggunakan
teknik bermain peran dapat ditingkatkan ?
b.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar
mengajar speaking yang menggunakan teknik bermain peran?
c.
Bagaimana aktivitas siswa pada pembelajaran speaking
dengan menggunakan teknik bermain peran ?
C.
Tujuan Penelitian ;
Untuk meningkatkan kemampuan
berbicara siswa melalui tekhnik bermain
peran pada kelas VIII.2
SMP NEGERI 13 KENDARI
D.
MANFAAT;
1)Bagi
siswa : Mereka dapat meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya keterampilan berbicara dalam dialog
pendek dan pengalaman proses belajar mengajar yang dapat menyenangkan dalam
kelas yang mana dapat kesempatan yang lebih banyak untuk melatih ketrampilan berbicara (speaking ) mereka.
2)
Bagi guru : Guru yang mengajarkan
speaking dapat menambah pengetahuan mereka sepanjang pengalaman mereka mengajar, terutama dalam
keterampilan berbicara khususnya dalam dialog dengan teknik
bermain peran (Role play)
3) Bagi sekolah : Penelitian ini diharapkan akan menambah
citra atau nama baik sekolah ketika memiliki siswa yang berprestasi tinggi
dalam bidang bahasa Inggris
|
|
KAJIAN PUSTAKA
A.
Hakikat Pembelajaran
Dalam istilah pembelajaran tercakup dua konsep yang saling terkait, yaitu
belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai oleh adanya
perubahan pada diri seseorang. Perubahan itu dapat berupa perubahan
pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, kecakapan
ketrampilannya, daya kreasinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang
ada pada individu. Sementara itu “mengajar” adalah fasilitas proses belajar
yang membutuhkan perubahan atau peningkataan tersebut. Mengajar yaitu proses
mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat
menimbulkan atau mendorong siswa melakukan proses belajarnya. (Sudjana 1997:
15-16) Menurut Darsono (2000: 71) pembelajaran harus mampu membina kemahiran
pada peserta didik untuk secara kreatif sehinggadapat menghadapi situasi
sejenis atau bahkan situasi yang baru sama sekali dengan cara yang memuaskan.
Dalam rangka penyelenggaraaan kehendak tersebut diperlukan perencanaan yang
terpadu atas komponen-komponen dan variabel-variabel yang ada dalam proses
pembelajaran tersebut sehingga aktifitas tujuan dapat tercapai. Terdapat lima
komponen utama yang saling terkait satu dengan lainnya dalam proses
pembelajaran, yaitu tujuan, bahan, metode, media, dan penilaian. (Sudjana 1997:
16).
|
6
|
Bruce Weil (1980)
dalam (Sanjaya W, 2008) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses
pembelajaran , yaitu : (1) proses pembelajaran adalah membentuk kreasi
lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa, sehingga
proses pembelajaran menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan
menemukan sendiri ; (2) pembelajaran adalah berhubungan dengan tipe pengetahuan
yang harus dipelajari, masing-masing pengetahuan fisis, sosial dan logika; dan
(3) proses pembelajaran adalah melibatkan lingkungan sosial.
Ketika sedang mengajar di depan kelas , terjadi dua proses yang terpadu yaitu dua
proses belajar dan mengajar. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai
kegiatan pengumpulan fakta atau proses penerapan prinsip.
Kontruktivis mengemukakan bahwa belajar merupakan proses
aktif dalam mengkontruksi teks, dialog, pengalaman fisik, dll. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan
menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah
dipunyai seseorang (suparno P, 1997).
B.
Pembelajaran Speaking
Tarigan (1989:285)
mengungkapkan bahwa metode-metode pembelajaran bahasa komunikatif dilandasi
oleh teori pembelajaran yang mengacu pada tiga prinsip, yaitu (1) prinsip
komunikasi, kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata mampu
mengembangkan proses pembelajaran dan (2) prinsip tugas, kegiatan-kegiatan
tempat dipakainya bahasa untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dapat
mengembangkan proses pembelajaran. Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, Tarigan
(1989: 195) mengungkapkan materi pembelajaran bahasa hendaknya memungkinkan
dapat diterapkannya metode permainan, simulasi, bermain peran, dan komunikasi
pasangan. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mewujudkan metode-metode
tersebut adalah teknik drama.
C.
Bermain Peran (Role Playing)
Belajar dapat di pandang sebagai hasil dan proses. Belajar dipandang
sebagai hasil yaitu dapat dilihat pada saat pembelajaran, guru melihat bentuk
terakhir dari berbagai dipelajari. Dari situ timbullah klasifikasi yang perlu
dimiliki oleh seorang murid, seperti hasil dalam bentuk keterampilan,
konsep-konsep sikap. Belajar dipandang sebagai proses dapat dilihat pada saat pembelajaran
guru terutama melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman.
Pengalaman edukatif untuk mencapai sesuatu tujuan yang diperhatikan adalah
pola-pola perubahan tingkah laku selama pengalaman belajar itu berlangsung.
Karena itulah ditekankan ditekankan pada daya-daya yang mendinamisir proses itu
(Surakhmad : 74-75). Kedua cara memandang belajar itu berguna bagi seorang guru
untuk saling melengkapi satu sama lain, karena tugas guru adalah merangsang,
membina, fasilitator, dan menjuruskan belajar sedemikian rupa sehingga timbul
hasil yang direncanakan dan dapat memaksimalkan hasil akhir dari kegiatan
belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Kegiatan belajar dapat dikatakan efisien dengan usaha
tertentu
memberikan hasil belajar yang tinggi. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai,
dilakukan atau dikerjakan (Ali : 1992). Untuk memperoleh hasil belajar
diperlukan suatu kegiatan yang lebih tinggi dengan ditandai adanya perubahan
tingkah laku. Tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikatakan atau diartikan
sebagai hasil belajar. Suatu perubahan tingkah laku dapat dikatakan atau
diartikan sebagai hasil belajar bila memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Sebagai pencapai tujuan belajar.
b. Sebagai buah dari proses kegiatan yang disadari.
c. Sebagai produk dari proses pelatihan.
d. Harus merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam waktu.
e. Harus berfungsi operasional dan potensial.
3. Pembelajaran Bahasa Inggris Di SMP
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar
berkomunikasi, oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Inggris di arahkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris, baik secara
lisan maupun tertulis. Pengertian komunikasi yang dimaksud adalah memahami dan
mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa Inggris
(Depdikbud, 2003).
Tujuan pengajaran bahasa Inggris di SMP adalah supaya
siswa memiliki keterampilan berbahasa dengan tingkat penguasaan kosakata sebanyak
1.000 kata
sesuai dengan minat, perkembangan siswa dan tata bahasa tertentu (
Depdiknas, 2003). Selain tujuan, pelajaran bahasa Inggris juga mempunyai fungsi
dan ruang lingkup sesuai dengan kurikulum KTSP bahasa Inggris 2008.
Fungsi dari mata pelajaran bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik dalam
bentuk lisan atau tertulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (reading), dan menulis (writing).
b. Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat bahasa baik bahasa Inggris sebagai
bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu melalui perbandingan ke
dua bahasa tersebut. budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian
siswa
dapat melintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman. Sedang ruang
lingkup pelajaran bahasa Inggris meliputi :
a. Ketrampilan berbahasa yaitu, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
b. Unsur-unsur kebahasaan mencakup: tata bahasa, kosakata, lafal dan ejaan.
c. Aspek budaya yang terkandung dalam teks lisan dan tulisan.
d. Aspek sastra yang berupa penghayatan apresiasi sastra.
Secara konsep,role play adalah sangat
aplikatif dalam kelas CTL pada aktivitas belajar mengajar sebagai teknik
pengajaran speaking. Role
play dapat menarik siswa mendapatkan kesempatan untuk berlatih berbicara dengan
menggunakan bahasa yang mereka pelajari dalam situasi yang nyata dalam
berkomunikasi
“Role play is drama like classroom
activities in which students take role of the defferent participants in a
situation and act out what might typically happen in that situation”
(Richard,Jack,Platt,John,weber,Heidi,1985:246)
“A well used role play can reduce
the artificiality of the classroom,provide a reason for talking and allow the learner to talk
meaningfully to other learners. Role play differ from the controlled practice
of the dialogue or dialogue with slots for the learners to substitute
alternatives. It has the element of freedom and possibility of surprise”.
(Johnson,K dan Morrow, K,1986 )
Metode
bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam
metode simulasi. Menurut Dawson yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati
mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan
menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses
perilaku. Sedangkan menurut Ali mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu
cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok, dikemukakan oleh Ali yang dikutip dari ProIbid, sebagai berikut ini: (a) Sosiodrama, yaitu semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (b) Psikodrama, yaitu hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosio drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya; dan (c) Role-Playing atau bermain peran yaitu metode yang bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.
Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok, dikemukakan oleh Ali yang dikutip dari ProIbid, sebagai berikut ini: (a) Sosiodrama, yaitu semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (b) Psikodrama, yaitu hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosio drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya; dan (c) Role-Playing atau bermain peran yaitu metode yang bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.
Sedangkan,
Moedjiono dan Dimyati juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3
kelompok seperti
berikut ini :
(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka;
(2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan/ atau waktu tertentu, dan
(3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.
(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka;
(2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan/ atau waktu tertentu, dan
(3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah
pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk
memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa
berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan
lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama. Pendekatan dan metode yang
dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap
keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode
yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan
satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Menurut Rustiyah (2003), ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
(1) Kemampuan guru dalam menggunakan metode
(2) Tujuan pengajaran yang akan dicapai
(3) Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa
(4) Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya
(5) Sarana dan prasarana yang ada di sekolah
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Menurut Rustiyah (2003), ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
(1) Kemampuan guru dalam menggunakan metode
(2) Tujuan pengajaran yang akan dicapai
(3) Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa
(4) Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya
(5) Sarana dan prasarana yang ada di sekolah
Berdasarkan
kutipan tersebut, berarti metode bermain peran adalah metode pembelajaran yang
di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat
dan/atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan
demikian metode bermain peran adalah metode yang melibatkan siswa untuk
pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan.
Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Endang Komara, mengatakan bahwa : Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan.
Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Endang Komara, mengatakan bahwa : Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan
Model Sajian
Situasi merupakan kerangka prosedural pembelajaran yang menggunakan simulasi
sebagai pemicu (trigger) belajar. Materi yang disajikan bukanlah konsep yang
abstrak secara verbal tetapi situasi yang dibuat mencerminkan suatu konsep.
Peserta didik dikondisikan untuk dapat menangkap konsep itu melalui proses
analisis situasi yang disimulasikan.
Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian
dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, actual,
kejadian-kejadian yang muncul
pada masa mendatang. Contoh topik yang diangkat
kejadian seputar G30S PKI, memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai
atau gambaran keadaan yang mungkin pada abad teknologi informasi (Wina Sanjaya,
2006)
Metode simulasi adalah metode pengajaran yang digunakan dalam proses belajar berupa tingkah laku dengan tujuan orang tersebut dapat mempelajari lebih dalam tentang bagaimana ia merasa dan berbuat sesuatu atau suatu metode pengajaran dimana siswa memerankan tugas orang lain dalam dirinya sebagai tiruan (Thoifuri, 2008).
Bagi guru inisiator metode ini perlu mendapat tersendiri dalam rangka membentuk kemampuan siswanya untuk terpacu menjadi public figure sesuai yang diperankan anak didik dalam kehidupan kelak.
Metode bermain peran adalah bentuk permainanan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan perasaan sikap dan tingkah laku dan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan untuk menghayati perasaan sudut pandang dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain (Depdiknas 1998).
Metode simulasi adalah metode pengajaran yang digunakan dalam proses belajar berupa tingkah laku dengan tujuan orang tersebut dapat mempelajari lebih dalam tentang bagaimana ia merasa dan berbuat sesuatu atau suatu metode pengajaran dimana siswa memerankan tugas orang lain dalam dirinya sebagai tiruan (Thoifuri, 2008).
Bagi guru inisiator metode ini perlu mendapat tersendiri dalam rangka membentuk kemampuan siswanya untuk terpacu menjadi public figure sesuai yang diperankan anak didik dalam kehidupan kelak.
Metode bermain peran adalah bentuk permainanan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan perasaan sikap dan tingkah laku dan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan untuk menghayati perasaan sudut pandang dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain (Depdiknas 1998).
Terdapat beberapa asumsi dalam model pembelajaran
bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial, yang
kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Mulyasa, menyatakan
bahwa: terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran keempat
asumsi tersebut, yaitu :
(1) Bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ”di sini pada saat ini”,
(2) Bermain peran memungkinkan para siswa untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain, tujuan mengungkapkan perasaan adalah mengurangi beban emosional,
(3) Bermain peran, berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan masalah tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa juga muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal, dan
(4) Model bermain peran, berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para siswa dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah (Mulyasa, E, 2005)
(1) Bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ”di sini pada saat ini”,
(2) Bermain peran memungkinkan para siswa untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain, tujuan mengungkapkan perasaan adalah mengurangi beban emosional,
(3) Bermain peran, berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan masalah tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa juga muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal, dan
(4) Model bermain peran, berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para siswa dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah (Mulyasa, E, 2005)
Persiapan metode bermain peran :
1. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
2. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan
3. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi peranan yang akan dimainkan oleh para pemeran serta waktu yang disediakan
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeran simulasi (Wina Sanjaya, 2006)
Langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah :
a. Mempersiapkan situasi untuk memulai drama
b. Menjelaskan kepada anak-anak apa yang diharapkan dari hasil dramatisasi yang dilakukan
c. Menugaskan untuk memegang peranan tertentu kepada anak-anak
d. Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan para pelaku
e. Pelaksanakan drama
f. Menilai drama secara bersama-sama antara guru dan siswa (M. Basyirudin U., 2002)
1. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
2. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan
3. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi peranan yang akan dimainkan oleh para pemeran serta waktu yang disediakan
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeran simulasi (Wina Sanjaya, 2006)
Langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah :
a. Mempersiapkan situasi untuk memulai drama
b. Menjelaskan kepada anak-anak apa yang diharapkan dari hasil dramatisasi yang dilakukan
c. Menugaskan untuk memegang peranan tertentu kepada anak-anak
d. Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan para pelaku
e. Pelaksanakan drama
f. Menilai drama secara bersama-sama antara guru dan siswa (M. Basyirudin U., 2002)
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan langkah-langkah dalam metode bermain
peran menurut adalah sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan rencana pembelajaran
b. Guru membuat skenario yang akan ditampilkan atau diperankan
c. Guru membentuk kelompok atau menentukkan pemeran
d. Guru menentukkan pemeran utama dan pemeran figure
e. Guru mengamati jalannya pertunjukan tersebut
f. Guru menanyakan tanggapan terhadap pemeranan siswa
g.Guru memberikan penilaian terhadap pemeran-pemeran dalam skenario
h. Guru mengadakan triangjulasi
a. Guru mempersiapkan rencana pembelajaran
b. Guru membuat skenario yang akan ditampilkan atau diperankan
c. Guru membentuk kelompok atau menentukkan pemeran
d. Guru menentukkan pemeran utama dan pemeran figure
e. Guru mengamati jalannya pertunjukan tersebut
f. Guru menanyakan tanggapan terhadap pemeranan siswa
g.Guru memberikan penilaian terhadap pemeran-pemeran dalam skenario
h. Guru mengadakan triangjulasi
Melalui bermain peran, para siswa mencoba
mengekspresikan hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan
mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi
perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu
model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari
dimensi pribadi model ini berupaya membantu peserta didik menemukan makna dari
lingkungan sosialnya yang bermanfaat bagi dirinya. Juga melalui model ini para
siswa diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya
dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelasnya.
Sedangkan dari dari dimensi sosial, model pembelajaran bermain peran memberikan
kesempatan kepada para siswa untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi
sosial, terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi siswa
|
|
METODE PENELITIAN
A.
Sasaran penelitian
Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas VIII.2 SMP Negeri 13 Kendari, semester genap tahun pelajaran 2010/2011
yang berjumlah 31 orang
yang terdiri dari 13 siswa perempuan dan 18 orang siswa laki-laki. Kelas ini
dipilih sebagai subjek penelitian berdasarkan observasi pendahuluan bahwa
sekitar 80 % memliki masalah dalam keterampilan speaking.
B.
Waktu dan tempat penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini dari bulan Desember 2010
sampai bulan Januari 2011, dan tempat penelitian di kelas VIII-2 pada SMP
Negeri 13 Kendari
C.
Faktor – faktor Penelitian
Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka
faktor yang ingin diselidiki adalah sebagai berikut :
1). Faktor siswa
Ada dua
faktor yang diselidi tentang siswa yaitu : (1) hasil belajar siswa dalam
pembelajaran speaking ( transaksional / interpersonal text) yang diajarkan (2)
Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
2). Faktor Guru
Hal yang
diselidiki pada guru adalah bagaimana mempersiapkan materi pelajaran apakah
telah sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan, media/alat bantu
yang digunakan, dan cara atau kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran
yang menggunakan teknik bermain peran (role playing)
|
19
|
D.
Prosedur Penelitian
D.
|
dst
|
|
Analisis Dan refleksi
|
|
Siklus 2
|
|
Perbaikan
Rencana
Tindakan
|
|
Siklus 1
|
|
Analisis dan refleksi
|
Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
terdiri atas dua (2) siklus. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan
kompetensi dasar yang ingin dicapai seperti pada faktor-faktor yang diselidiki.
Selanjutnya, dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan : (1)
perencanaan (planning); (2)pelaksanaan tindakan (action); (3) observasi dan
evaluasi (observation and evaluation);dan (4) refleksi (reflection).
Secara rinci,prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat
dijabarkan sebagai berikut.
1)
SIKLUS 1
a).
Perencanaan
pada tahap ini tim peneliti mempersiapkan hal-hal yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Adapun
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut : (1) Membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bersesuaian dengan kompetensi dasar
9.2 Mengungkapkan makna dalam perccakapan transaksional (to get thing done) dan
interpersonal (bersosialisasi) pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa
lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan
terdekat yang melibatkan tindak tutur: meminta, memberi persetujuan, merespon pernyataan,
memberi perhatian terhadap pembicara, mengawali, memperpanjang, dan menutup
percakapan telpon. (2) Membuat scenario bermain peran tentang percakapan dalam
telpon. (3) Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS), (4) Membuat lembar observasi
tentang kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dan aktivitas siswa
dalam kegiatan belajar mengajar, (5) Menyusun angket siswa untuk melihat
tingkat minat siswa terhadap model /teknik bermain peran alam pembelajaran
speaking, (6) Mendesain alat evaluasi atau tes hasil belajar untuk mengetahui
tingkat penguasaan siswa terhadap materi speaking setelah siswa mengikuti
kegiatan pembelajaran.
b). Tindakan
Kegiatan yang
dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP-01 tentang
ungkapan meminta,memberi persetujuan dan memberi perhatian terhadap
pembicara/orang lain melalui percakapan dalam telpon, yang telah di buat oleh
peneliti dan di amati oleh dua orang guru lain yang bertindak sebagai observer
c). Observasi
dan Evaluasi
Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti dan dua
guru yang bertindak sebagai observer bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan
aspek- aspek yang diteliti. Pada akhir pelaksanaan tahap ini tim peneliti
melakukan evaluasi sejauh mana guru telah menerapkan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah ditetapkan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan
tes performance berdasarkan materi yang telah diajarkan
d). Refleksi
Peneliti melaksanakan diskusi untuk merefleksi hasil observasi dan
evaluasi yang dilakukan. Refleksi ini dilakaukan untuk mengkaji keunggulan dan
kelemahan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi digunakan
untuk menetapkan langkah-langkah pada siklus berikutnya.
e). Indikator Kinerja
Penelitian Tindakan
Kelas ini dikatakan berhasil bila hasil belajar siswa mencapai KKM yang
ditetapkan yaitu 70 , dengan ketentuan bahwa 75 % siswa mencapai nilai NKM 70
2)
SIKLUS II
a). Perencanaan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap
perencanaan pada siklus II ini adalah sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi
kelemahan atau hal-hal yang belum tercapai pada siklus I untuk disempurnakan
lebih lanjut, (2) Meninjau kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berupa RPP
02 tentang meminta, memberi menolak barang, menolak jasa , meminta informasi
,dan meminta, memberi dan menolak pendapat dalam telpon, untuk
diimplementasikan pada siklus II yang rencana pelaksanaannya sebanyak 2 kali
tatap muka.
b). Tindakan
Kegiatan yang dilaksankan dalam tahap ini
adalah melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada RP 02 . Pelaksanaan pembelajaran
dilakukan oleh guru (peneliti) sebagai guru model. Dengan langkah- langkah
pembelajaran yang sesuai dengan RPP (kegiatan pendahuluan , inti dan kegiatan
penutup)
c). Observasi dan Evaluasi
Pada
tahap ini dilaksanakan kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti
dan dua guru dan satu pembimbing yang bertindak sebagai observer. Pada akhir
pelaksanaan tahap ini dilakukan evaluasi untuk mengetahui penampilan guru,
model dan prestasi belajar siswa berupa test hasil belajar.
d). Refleksi
Peneliti melaksanakan diskusi dan refleksi
berdasarkan hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan. Refleksi ini dilakukan
untuk mengkaji keunggulan dan kelemahan yang di pandang ada dalam pelaksanaan
tindakan.
e). Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan proses pada siklus II apabila
siswa telah mencapai KKM atau ketuntasan minimal yaitu 70 secara klasikal
mencapi 75 %.
E.
Data dan Teknik Pengumpulan Data
1.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru
2.
Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :
a.
Observasi
Teknik
observasi dipergunakan untuk menjaring data penelitian dengan menggunakan
lembar pengamatan yang sesuai. Kegiatan observasi dilakukan untuk memperoleh
data kemampuan gurudalam pengelolaan pembelajaran dan aktivitas siswa
b.
Angket
Penggunaan
angket ini dipakai untuk memperoleh data dan informasi tentang tingkat
keberminatan siswa terhadap teknik pembelajaran speaking yang digunakan saat
pembelajaran pada penelitian tindakan kelas ini
c.
Tes Hasil Belajar
Tes
digunakan untuk mengetahui ketuntasan
dan pencapaian KKM. Penentuan ketuntasan hasil belajar siswa ini berdasarakan
analisi KKM untuk kompetensi dasar yang diajarkan.
F.
Teknik Analisis Data
1.
Analisis Deskriptif Pengamatan Aktivitaas Siswa
Data hasil pengamatan aktivitas siswa dianalisis dengan
menghitung frekuensi dan prosentase masing-masing aktivitas yang muncul selama
pembelajran , yaitu banyaknya frekuensi setiap aktivitas dibagi dengan seluruh
frekuensi tiap aktivitas dikali 100.
Persentase aktivitas siswa perkategori aktivitas selama
pembelajaran dihitung dengan menggunakan rumus :
P
Persentase
aktivitas siswa = Qx100%
Keterangan :
P = Frekuensi aktivitas siswa perkategori yang teramati
oleh pengamat
Q = jumlah aktivitas seluruh siswa selam pembelajaaran
berlangsung
2.
Analisis Tes Hasil Belajar
Analisis
tes hasil belajar dilakukan untuk mengetahui ketuntasan belajart siswa dengan patokan pada nilai
ketuntasan minimal (KKM) pada kompetensi dasar. Untuk menetukan ketuntasan
belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
beriut :
KB =
X 100 (
Muhammad, 2003 : 104)
Keterangan
:
KB
= Ketuntasan Belajar
T =
jumlah skor yang diperoeh siswa
Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya ( ketuntasan
individu) jika nilai perolehan siswa telah mencapai KKM atau jika T/Tt x 100
72,22 pada kompetensi dasar tersebut.
3.
Analisis Deskriptif Pengamatan Kemampuan Guru dalam
Kegiatan Pembelajaran
Data hasil pengamatan
kemampuan guru dalam mengelola kegatan pembelajaran dianalisis dengan
menghitung skor rata-rata setiap aspek peniliain keterlaksanaan kegiatan
pembelajaran.
|
|
HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian Tindakan
1.
Pelaksanaan Sklus I
Pada
sklus I yang telah dlaksanakan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran
yang telah dikembangkan pada tahap persiapan yang berupa bahan berupa skenario
percakapan dalam telpon , rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja
siswa (LKS), instrumen hasil belajar (evaluasi formatif). Sedangkan untuk mengamati
keterlaksanaan proses pembelajaran dilakukan pengamatan terhadap aktvitas siswa
dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
a.
Pengamatan aktvitas siswa pada siklus I
Tatap
muka pertama dlaksanakan pada hari selasa tanggal 11 Januari 2011, pukul 10.20
– 12.20 . pada menit-menit pertama, guru mengajak siswa berdiskusi tentang
pembelajaran speaking yang sudah sering mereka lakukan yaitu dengan cara
mengikuti guru untuk melafalkan kata demi kata atau kalimat demi kalimat dari
suatu teks yang disajikan. Kemudian guru mengenalkan teknik berman peran untuk
meningkatkan penguaasaan ketrampilan speaking khususnya untuk jenis teks
transaksonal/interpersonal
|
27
|
Berdasarkan
hasil wawancara melalui angket (tabel 4.5) tentang kegiatan pembelajaran ,
diperoleh gambaran secara umum bahwa siswa sangat antusias dengan cara belajar
yang menggunakan teknik bermain peran.
TABEL 4.5
ANGKET SISWA
Berilah
tanda cheklis (√) pada kolom
jawaban yang tersedia sesuai dengan pendapatmu.
Pilihan
jawaban terdiri dari sangat setuju (SS),setuju (S), tidak setuju (TS), dan
sangat tidak setuju(STS). Isilah seluruh pertanyaan tersebut dengan
sejujur-jujurnya.jawabanmu tidak akan mempengaruhi nilai bahasa inggrismu.
|
No.
|
Pertanyaan
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
1.
|
Pembelajaran
bahasa inggris khususnya speaking dengan menggunakan teknik role playing
menarik bagi saya
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pembelajaran
dengan role playing membuat saya lebih mudah memahami materi
|
|
|
|
|
|
3.
|
Saya
merasa senang dengan pembelajaran role playing
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pembelajaran
dengan role playing membuat saya merasakan secara nyata fungsi bahasa sebagai
alat komunikasi
|
|
|
|
|
|
5.
|
Saya
senang mempratekkan ungkapan bhs inggris yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari
|
|
|
|
|
|
6.
|
Pembelajaran
dengan role playing membuat saya berani mengemukakan pendapat
|
|
|
|
|
|
7.
|
Masalah
yang disajikan dapat dipahami setelah dibaca berulang-ulang
|
|
|
|
|
|
8.
|
Kesempatan
berdiskusi dengan teman satu kelompok atau teman satu kelas memudahkan saya dalam memecahkan masalah
|
|
|
|
|
|
9.
|
Saya
merasa tegang pada saat pembelajaran dengan role playing
|
|
|
|
|
|
10.
|
Pembelajaran
dengan role playing sangat membosankan
|
|
|
|
|
|
11.
|
Saya
lebih senang menentukan sendiri pembentukan kelompok
|
|
|
|
|
|
12.
|
Saya
merasa cepat putus asa apabila tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan
|
|
|
|
|
|
13.
|
Guru
sangat membantu apabila siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal
|
|
|
|
|
|
14.
|
Saya
ingin materi yang lain diajarkan dengan metode role playing
|
|
|
|
|
Kendari,
...Januari 2011
Responden
Berdasarkan
data atau hasil temuan yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran dengan
materi ungkapan meminta,memberi,menolak
persetujuan ,memberi perhatian kepada orang lain dalam sebuah percakapan dalam
telpon,peneliti menganalsis bahwa pembelajaran siklus I ini sudah dilaksanakan
sesuai perencanaan. Tetapi masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan,diantaranya
masih ada siswa yang kurang antusias dalam memainkan peran sehingga masih
tampak ketidak-sungguhan dan kurang ekspresif dalam memainkan perannya.
Siswa
juga masih kurang aktif dalam memainkan peran tersebut karena siswa masih takut
dan malu-malu serta mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata Bahasa Inggris.
Bahkan dalam melakukan peran ,banyak siswa yang mengganggu pemain lain dan situasi
di kelas sangat ribut karena beberapa kelompok masih melakukan latihan ,
sehingga siswa sulit dalam mengekspresikan diri pada saat bermain peran dengan
baik. Selain itu terdapat beberapa siswa yang masih belum hafal teks yang harus
diucapkan. Beberapa diantaranya masih harus membaca teks saat bermain peran.
Akitvitas
siswa selama kegiatan pembelajaran diamati oleh pengamat dengan menggunakan
instrument pengamatan aktivitas siswa. Hasil pengamatan aktivitas siswa selama
kegiatan belajar mengajar dideskripsikan dalam bentuk persentase. Hasil
pengamatan aktivitas siswa pada pertemuan pertama dan kedua siklus I disajikan
dalam tabel 4.1 berikut
Tabel 4.1 Analisis Aktivitas
siswa pada pelaksanaan PBM
|
NO.
|
Aktivitas Siswa
|
Persentase (%)
|
||
|
Pert. 1
|
Pert. 2
|
Rerata
|
||
|
1.
|
Mendengarkan /memperhatikan penjelasan guru
|
15,6
|
9,7
|
12,65
|
|
2.
|
Membaca materi ajar /LKS
|
16,3
|
9,3
|
12,8
|
|
3.
|
Menulis (yang relevan dengan KBM)
|
12,5
|
14,0
|
13,25
|
|
4.
|
Bekerja sama menyelesaikan tugs dalam kelompok
|
13,8
|
17,0
|
15,4
|
|
5.
|
Melakukan latihan performance berdasarkan skenario
|
12,9
|
18,3
|
15,6
|
|
6.
|
Memperhatikan penampilan teman yang sedang bermain
peran
|
6,7
|
8,0
|
7,35
|
|
7.
|
Merangkum/menyimpulkan materi pelajaran
|
7,1
|
8,3
|
7,7
|
|
8.
|
Melakukan aktivitas lain yang tidak relevan
|
|
|
|
|
9.
|
Berfdiskusi/bertanya jawab antar siswa dengan siswa dan
siswa dengan guru
|
6,3
|
7,0
|
6,65
|
Berdasarkan
tabel 4.1 di atas bisa dilihat bahwa rata-rata persentase tiap komponen
aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran pada siklus I menunjukkan nilai
yang bearvariasi dan beragam. Persentase komponen aktivitas siswa paling tinggi
adalah Melakukan latihan performance berdasarkan skenario sebesar 15,6 % dan
Memperhatikan penampilan teman yang sedang bermain peran sebesar 7,35 %. Ini
menunjukkan bahwa teknik bermain peran dalam proses pembelajaran speakng
sangatlah nampak dan berrdampak positif pada keaktifan siswa.
b.
Pengamatan Kemampuan guru dalam mengelola PBM pada siklus
I
Kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran selama pembelajaran speakng berlangsung di amati oleh dua orang pengamat
dengan menggunakan lembar pengamatan kemampuan guru dalam melaksanakan
pembelajaran pada pertemuan 1 dan 2 di siklus I. Kemampuan yang diamati pada
guru menyangkut membuka pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran,
termasuk pembelajaran yang menerapkan teknik bermain peran. Rata-rata skor
kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang diamati dalam pelaksanaan
pembelajaran siklus Idapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :
Tabel
4.2 Kemampuan guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar
|
No
|
Aspek yang diamati
|
Terlaksana
|
skor
|
|||
|
ya
|
tidak
|
Pert.1
|
Pert 2
|
rerata
|
||
|
|
Pengamatan PBM
|
|
|
|
|
|
|
|
A.
Pendahuluan
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
Memberitahukan SK,KD dan indikator
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
Menuliskan topik pembelajaran
|
√
|
-
|
4.00
|
4.00
|
4.00
|
|
|
3.
Apersepsi dan motivasi
|
√
|
-
|
4.00
|
4.00
|
4.00
|
|
2
|
KEGIATAN POKOK
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
Penyajian sesuai dengan urutan materi
|
√
|
-
|
3.50
|
3.75
|
3.63
|
|
|
2.
Metode/pendekatan sesuai dengan materi
|
√
|
-
|
4.00
|
4,00
|
4.00
|
|
|
3.
Keterlibatan siswa
|
√
|
-
|
3.00
|
3.00
|
3.00
|
|
|
4.
Bimbingan kepada siswa sebagai fasilitator
|
√
|
-
|
3.00
|
3.50
|
3.25
|
|
|
5.
Pengelolaan kelas
|
√
|
-
|
4.00
|
4.00
|
4.00
|
|
|
6. Pengembangan
ketrampilan siswa
-
merespon penjelasan teman
-
memberikan ide dalam kelompok
-
kekompakan dalam bekerja sama
|
√
|
-
|
3.00
|
3.00
|
3.00
|
|
|
7. pelaksanaan
sesuai dengan waktu
-
bermain peran dalam kelompok
-
bermain peran di depan kelas
|
√
|
-
|
3.00
|
3.50
|
3.25
|
|
3
|
PENUTUP
|
|
|
|
|
|
|
|
Memberi kesimpulan dan tugas
rumah
|
√
|
-
|
3.50
|
3.50
|
3.50
|
Berdasarkan
tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran yang dilakukan dengan menerapakan teknik bermain peran (role
playing) terutama pada saat pembimbingan terhadap siswa yang berlatih bermain
peran sesuai skenario yang telah disiapkan dapat terlaksana dengan baik
c.
Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I diperoleh
nilai secara individu sebagai berikut : terdapat 26 siswa ( 83,87 %) yang mendapatkan nilai baik
dengan kriteria pada kerja sama siswa mampu bekerja sama dengan baik dalam
bermain peran, berekspresi dengan baik sesuai dengan tokoh yang diperankan ,
dan dapat melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris (pronounciaton) dengan baik
pada dialog ; terdapat 6 siswa ( 19,35
%) yang mendapatkan nilai kurang pada kerja sama siswa mampu bekerja sama
dengan baik dalam bermain peran,
berekspresi
dengan kurang baik sesuai dengan tokoh yang diperankan , dan kurang baik
melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris (pronounciaton)
Dalam hal ini, guru menentukan kriteria
penilaian pada pembelajaran speaking dengan menggunakan teknik role playing
sebagai tolak ukur pencapaian tingkat keberhasilan siswa, yaitu : nilai sangat baik
(A) bagi siswa yang dapat bekerja sama dengan sangat baik dalam bermain peran (termasuk accuracy),
siswa dapat berekspresi dengan sangat baik sesuai tokoh yang diperankan, dan
siswa dapat melafalkan dengan sangat baik kata-kata bahasa Inggris pada
dialog, yang ditandai dengan perolehan
skor nilai antara 81 - 100 ; nilai baik (B) bagi siswa yang dapat bekerjasama dengan baik dalam bermain
peran, siswa dapat berekspresi dengan baik sesuai dengan tokoh yang diperankan,
dan melafalkan kata-kata bahasa Inggris dengan baik pada dialog yang
ditandai dengan perolehan skor nilai antara 70- 80 ; serta nilai kurang (K) bagi siswa yang dapat
bekerjasama dengan baik dalam bermain peran, siswa kurang baik dalam
berekspresi sesuai dengan tokoh yang diperankan, dan siswa kurang baik dalam
melafalkan kata-kata bahasa Inggris pada dialog yang
ditandai dengan perolehan skor nilai kurang dari 70
Untuk mengetahui hasil belajar setelah pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar, maka peneliti melaksanakan evaluasi yang
dilaksanakan pada akhir kegiatan tatap muka dengan menggunakan test
performance. Berdasarkan indikator keberhasilan pada penelitian ini, maka
keberhasilan pada kegiatan pembelajaran di siklus I tercapai karena 26 siswa dari 31 siswa atau 83,87
% siswa sudah memperoleh nilai di atas KKM yaitu 70
Adapun analisis ketuntasan hasil belajar siswa pada
materi speaking untuk jenis teks transaksional / interpersonal dengan ungkapan
meminta,memberi,menolak persetujuan ,memberi perhatian kepada orang lain dalam
sebuah perecakapan dalam telpon, dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.3 Data analisis ketuntasan hasil belajar siswa
pada siklus I
|
DAFTAR NILAI SPEAKING
|
|||||||
|
Kelas : VIII.2
|
KKM = 70
|
||||||
|
No.
|
Nama
|
Aspek Penilaian SPEAKING
|
Jumlah score
|
Jumlah nilai
|
KETERANGAN
|
||
|
accuracy(30%)
|
Fluncy (30%)
|
Expression (40%)
|
|||||
|
1
|
ADE FITRA
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
TUNTAS
|
|
2
|
ANDI AN-NISA
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
3
|
ANDI TENRI
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
4
|
ARDIANSYAH
|
3
|
2
|
2
|
7
|
58,33
|
TT
|
|
5
|
ASKING N.
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
6
|
DARMI
|
3
|
2
|
3
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
7
|
EDI HERMAWAN
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
8
|
EPHI TRIANTI
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
9
|
HERMAN MAMAN
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
10
|
HIDAYATULLAH
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
11
|
IMAM
|
3
|
2
|
2
|
7
|
58,33
|
TT
|
|
12
|
IRFAN BUDIANI S.
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
13
|
ISRAWATI
|
3
|
3
|
2
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
14
|
KARMILA
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
15
|
MUH.ADIARNO
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
16
|
MUH.ASWAD
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
17
|
M.ARHAM
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
18
|
MARGALAE
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
19
|
MUH,ZALDI ZAIN
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
20
|
MUH.PRARIDO
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
21
|
NIRMALA
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
22
|
NURMANSYAH
|
2
|
2
|
2
|
6
|
50
|
TT
|
|
23
|
PATMAWATI
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
24
|
RIKA ADRIANI
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
25
|
SAHRUL S.
|
2
|
3
|
3
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
26
|
SARMIDA
|
3
|
3
|
3
|
9
|
75
|
T
|
|
27
|
UMI RAHMAYANTI
|
3
|
2
|
3
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
28
|
WD,MURNIA
|
2
|
3
|
2
|
7
|
58,33
|
TT
|
|
29
|
WD.NURIANA
|
2
|
3
|
3
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
30
|
WIRANTO
|
2
|
3
|
3
|
8
|
66,67
|
TT
|
|
31
|
YUSLAN
|
2
|
2
|
2
|
6
|
50
|
TT
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar