Rabu, 08 Februari 2012

laporan PTK



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang masalah
Penguasaan bahasa Inggris merupakan persyaratan penting bagi keberhasilan individu, masyarakat dan bangsa Indonesia dalam menjawab tantangan zaman pada tingkat global karena bahasa Inggris  merupakan bahasa global yang digunakan oleh lebih dari separuh penduduk dunia. Disamping berperan sebagai bahasa ilmu pengetahuan , teknologi dan seni,bahasa Inggris menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi perdagangan , hubungan antar bangsa, tujuan sosial budaya dan pendidikan serta tujuan pengembangan karir. Oleh karena itu bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual , sosial dan emosional siswa dan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan mempelajaari bidang-bidang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari bahasa menjadi alat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Makna komunikasi adalah upaya memahami dan mengungkapkan informasi , pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan , teknologi dan budaya dengan menggunakan bahasa. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah menghasilkan teks lisan dan atau tulisan yang direalisasikan dalam empat ketrampilan bahasa , yakni mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Keempat ketrampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. 
1
            Belajar bahasa bertujuan pada penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Dalam belajar bahasa      ada 2 perbedaan ketrampilan berbahasa, yaitu ketrampilan productive dan ketrampilan receptive . ketrampilan receptive merujuk pada listening dan reading , sedangkan ketarampilan productive merujuk pada writing and speaking . keduanya dibutuhkan dalam keaktifan komunikasi. Untuk itu guru dan siswa hendaknya mengembangkan semua kemampuan berbahasa yang efektif  dalam proses belajar mengajar agar dapat meningkatkan penggunaan bahasa yang mereka pelajari dalam berbahasa .
Hal ini sejalan dengan yang di kemukakan oleh (Halliday in Jack Richard; John Platt;  Heldi  Weber,1985) bahwa memiliki pengetahuan yang memadai  tentang komponen bahasa  seperti   structure, vocabulary, pronounciation, intonation,as well as the field, tenor, dan mode dalam berbahasa, akan menjadikan siswa lebih berhasil dengan menggunakan  bahasa dalam berkomunikasi.
Dari hasil penilaian  yang telah di lakukan di kelas VIII.2 SMP N 13 KDI menunjukan bahwa sekitar 80% dari 32 orang siswa memperoleh nilai speaking  di bawah KKM . Hal ini mengindikasikan bahwa speaking adalah ketrampilan berbahasa sangat sulit untuk di pelajari . siswa merasa kesulitan akibat dari keterbatasan pengetahuan dalam komponen berbahasa dan juga keterbatasan dalam pemahaman tentang kultur social budaya dari penutur asli dan konteks social budaya bahasa asing tersebut.
Tujuan pembelajaran speaking menurut Brown (2001: 113) adalah agar para siswa dapat berpartisipasi dalam percakapan singkat, memberi dan menjawab pertanyaan, menemukan cara untuk menyampaikan maksud, mengumpulkan informasi dari yang lain, dan masih banyak lagi. Anak usia sekolah dasar memiliki ciri tersendiri dalam belajar, dibandingkan dengan pelajar dewasa.
Banyak pembicaraan melibatkan interkasi dengan satu atau lebih pelaku. Berbicara yang efektif juga meliputi pendengaran yang baik, sebuah pemahaman tentang bagaimana perasaan pihak lain, dan sebuah pengetahuan tentang bagaimana aturan untuk mengambil giliran atau membiarkan pihak lain untuk berbicara juga. Harmer (1997) mengemukakan bahwa ada beberapa unsur dalam speaking, yaitu: keistimewaan bahasa; pengelolaan bahasa; dan interaksi dengan pihak lain.
Pengajaran speaking di SMP dimulai dari hal-hal yang termudah menuju hal yang kompleks, hal ini supaya memudahkan siswa dalam perkembangan proses kemampuan berbicaranya, apalagi dalam pembelajaran bahasa Inggris, karena bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi mereka yang pelafalan dan intonasinya berbeda dengan bahasa yang sudah mereka ketahui sebelumnya.
Teknik role play dalam proses pembelajaran digunakan untuk belajar tentang pengenalan perasaan dan persoalan yang dihadapi siswa, dan untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah. Teknik role play diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan siswa dan untuk memotivasi siswa agar lebih memperhatikan materi yang sedang diajarkan.
Role play adalah simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan, yang bertujuan untuk melatih siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya; melatih praktik berbahasa lisan secara intensif; dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Joyce dan Weil (2007: 70) menerangkan bahwa melalui teknik role play, siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menghargai diri sendiri dan perasaan orang lain, mereka dapat belajar perilaku yang baik untuk menangani situasi yang sulit, dan mereka dapat melatih kemampuan mereka dalam memecahkan masalah

B.     Rumusan masalah dan Pemecahan Masalah
1.      Perumusan masalah
Ketepatan memilih strategi pembelajaran menjadi penentu tingkat keberhasilan speaking siswa. Peningkatan kemampuan speaking siswa, kususnya untuk jenis teks transaksional dan interpersonal dapat dilakukan melalui strategi yang mendorong keingintahuan siswa dan menarik untuk dilaksanakan. Strategi bermain peran adalah alternatif yang digunakan dalam mendorong proses pembelajaran  speaking dengan menekankan pada proses berbicara itu sendiri. Pada penerapan strategi bermain peran ini, antara guru dengan siswa atau siswa denagn siswa dapat berinteraksi terus- menerus pada proses pembelajaran. Penerapan strategi bermain peran menjadi fokus penelitian tindakan kelas ini
Berdasarkaan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah mendapatkan pembelajaran speaking dengan menggunakan teknik bermain peran ?
2.      Pemecahan masalah
Berdasarkan analisa dan refleksi pada masalah tersebut di atas , peneliti memutuskan tekhnik  bermain peran (role-play) dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan kualitas siswa dalam keterampilan berbicara dan kemampuan berbicara siswa dalam merespon  pelaksanaan tekhnik bermain peran (role-play)
3.      Pertanyaan penelitian
Berdasaarkan rumusan masalah diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Apakah hasil belajar speaking siswa dengan menggunakan teknik bermain peran dapat ditingkatkan ?
b.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar speaking yang menggunakan teknik bermain peran?
c.       Bagaimana aktivitas siswa pada pembelajaran speaking dengan menggunakan teknik bermain peran ?
C.    Tujuan Penelitian ;
            Untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa melalui  tekhnik bermain peran pada kelas VIII.2 SMP NEGERI 13 KENDARI
   D.  MANFAAT;
       1)Bagi siswa : Mereka dapat meningkatkan keterampilan berbahasa  khususnya keterampilan berbicara dalam dialog pendek dan pengalaman proses belajar mengajar yang dapat menyenangkan dalam kelas yang mana dapat kesempatan yang lebih banyak  untuk melatih ketrampilan  berbicara (speaking ) mereka.
      2) Bagi guru : Guru yang mengajarkan speaking dapat menambah pengetahuan mereka sepanjang  pengalaman mereka mengajar, terutama dalam keterampilan berbicara khususnya dalam dialog dengan teknik  bermain peran (Role play)
3) Bagi sekolah : Penelitian ini diharapkan akan menambah citra atau nama baik sekolah ketika memiliki siswa yang berprestasi tinggi dalam bidang bahasa Inggris
           

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Hakikat Pembelajaran
Dalam istilah pembelajaran tercakup dua konsep yang saling terkait, yaitu belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai oleh adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan itu dapat berupa perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, kecakapan ketrampilannya, daya kreasinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang ada pada individu. Sementara itu “mengajar” adalah fasilitas proses belajar yang membutuhkan perubahan atau peningkataan tersebut. Mengajar yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menimbulkan atau mendorong siswa melakukan proses belajarnya. (Sudjana 1997: 15-16) Menurut Darsono (2000: 71) pembelajaran harus mampu membina kemahiran pada peserta didik untuk secara kreatif sehinggadapat menghadapi situasi sejenis atau bahkan situasi yang baru sama sekali dengan cara yang memuaskan. Dalam rangka penyelenggaraaan kehendak tersebut diperlukan perencanaan yang terpadu atas komponen-komponen dan variabel-variabel yang ada dalam proses pembelajaran tersebut sehingga aktifitas tujuan dapat tercapai. Terdapat lima komponen utama yang saling terkait satu dengan lainnya dalam proses pembelajaran, yaitu tujuan, bahan, metode, media, dan penilaian. (Sudjana 1997: 16).
6
            Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga dimaknai sebagai proses      mengatur lingkungan belajar siswa supaya siswa belajar. Dalam pembelajaaran perlu memeberdayakan semua potensi siswa agar dapat menguasai kompetensi yang diharapkan sehingga mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat dan dapat mewujudkan masyarakar belajar.
Bruce Weil (1980) dalam (Sanjaya W, 2008) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran , yaitu : (1) proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa, sehingga proses pembelajaran menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri ; (2) pembelajaran adalah berhubungan dengan tipe pengetahuan yang harus dipelajari, masing-masing pengetahuan fisis, sosial dan logika; dan (3) proses pembelajaran adalah melibatkan lingkungan sosial.
Ketika sedang mengajar di depan kelas  , terjadi dua proses yang terpadu yaitu dua proses belajar dan mengajar. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai kegiatan pengumpulan fakta atau proses penerapan prinsip.
Kontruktivis mengemukakan bahwa belajar merupakan proses aktif dalam mengkontruksi teks, dialog, pengalaman fisik, dll. Lebih lanjut dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah dipunyai seseorang (suparno P, 1997).




B.     Pembelajaran Speaking
Tarigan (1989:285) mengungkapkan bahwa metode-metode pembelajaran bahasa komunikatif dilandasi oleh teori pembelajaran yang mengacu pada tiga prinsip, yaitu (1) prinsip komunikasi, kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata mampu mengembangkan proses pembelajaran dan (2) prinsip tugas, kegiatan-kegiatan tempat dipakainya bahasa untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dapat mengembangkan proses pembelajaran. Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, Tarigan (1989: 195) mengungkapkan materi pembelajaran bahasa hendaknya memungkinkan dapat diterapkannya metode permainan, simulasi, bermain peran, dan komunikasi pasangan. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mewujudkan metode-metode tersebut adalah teknik drama.
C.     Bermain Peran (Role Playing)
Belajar dapat di pandang sebagai hasil dan proses. Belajar dipandang sebagai hasil yaitu dapat dilihat pada saat pembelajaran, guru melihat bentuk terakhir dari berbagai dipelajari. Dari situ timbullah klasifikasi yang perlu dimiliki oleh seorang murid, seperti hasil dalam bentuk keterampilan, konsep-konsep sikap. Belajar dipandang sebagai proses dapat dilihat pada saat pembelajaran guru terutama melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman. Pengalaman edukatif untuk mencapai sesuatu tujuan yang diperhatikan adalah pola-pola perubahan tingkah laku selama pengalaman belajar itu berlangsung. Karena itulah ditekankan ditekankan pada daya-daya yang mendinamisir proses itu (Surakhmad : 74-75). Kedua cara memandang belajar itu berguna bagi seorang guru untuk saling melengkapi satu sama lain, karena tugas guru adalah merangsang, membina, fasilitator, dan menjuruskan belajar sedemikian rupa sehingga timbul hasil yang direncanakan dan dapat memaksimalkan hasil akhir dari kegiatan belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Kegiatan belajar dapat dikatakan efisien dengan usaha tertentu
memberikan hasil belajar yang tinggi. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan (Ali : 1992). Untuk memperoleh hasil belajar diperlukan suatu kegiatan yang lebih tinggi dengan ditandai adanya perubahan tingkah laku. Tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikatakan atau diartikan sebagai hasil belajar. Suatu perubahan tingkah laku dapat dikatakan atau diartikan sebagai hasil belajar bila memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Sebagai pencapai tujuan belajar.
b. Sebagai buah dari proses kegiatan yang disadari.
c. Sebagai produk dari proses pelatihan.
d. Harus merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam waktu.
e. Harus berfungsi operasional dan potensial.
3. Pembelajaran Bahasa Inggris Di SMP
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Inggris di arahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris, baik secara lisan maupun tertulis. Pengertian komunikasi yang dimaksud adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa Inggris (Depdikbud, 2003).
Tujuan pengajaran bahasa Inggris di SMP adalah supaya siswa memiliki keterampilan berbahasa dengan tingkat penguasaan kosakata sebanyak 1.000 kata
sesuai dengan minat, perkembangan siswa dan tata bahasa tertentu ( Depdiknas, 2003). Selain tujuan, pelajaran bahasa Inggris juga mempunyai fungsi dan ruang lingkup sesuai dengan kurikulum KTSP bahasa Inggris 2008.
Fungsi dari mata pelajaran bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik dalam bentuk lisan atau tertulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan  (reading), dan menulis (writing).
b. Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat bahasa baik bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu melalui perbandingan ke dua bahasa tersebut. budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa
dapat melintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman. Sedang ruang lingkup pelajaran bahasa Inggris meliputi :
a. Ketrampilan berbahasa yaitu, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
b. Unsur-unsur kebahasaan mencakup: tata bahasa, kosakata, lafal dan ejaan.
c. Aspek budaya yang terkandung dalam teks lisan dan tulisan.
d. Aspek sastra yang berupa penghayatan apresiasi sastra.
Secara konsep,role play adalah sangat aplikatif dalam kelas CTL pada aktivitas belajar mengajar sebagai teknik pengajaran speaking. Role play dapat menarik siswa mendapatkan kesempatan untuk berlatih berbicara dengan menggunakan bahasa yang mereka pelajari dalam situasi yang nyata dalam berkomunikasi
            “Role play is drama like classroom activities in which students take role of the defferent participants in a situation and act out what might typically happen in that situation” (Richard,Jack,Platt,John,weber,Heidi,1985:246)
            “A well used role play can reduce the artificiality of the classroom,provide a reason for talking and allow the learner to talk meaningfully to other learners. Role play differ from the controlled practice of the dialogue or dialogue with slots for the learners to substitute alternatives. It has the element of freedom and possibility of surprise”. (Johnson,K dan Morrow, K,1986 )
Metode bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Menurut Dawson yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Sedangkan menurut Ali mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok, dikemukakan oleh Ali yang dikutip dari ProIbid, sebagai berikut ini: (a) Sosiodrama, yaitu semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (b) Psikodrama, yaitu hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosio drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya; dan (c) Role-Playing atau bermain peran yaitu metode yang bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.
Sedangkan, Moedjiono dan Dimyati juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3 kelompok seperti berikut ini :
(1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka;
(2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan/ atau waktu tertentu, dan
(3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok.
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama. Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Menurut Rustiyah (2003), ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
(1) Kemampuan guru dalam menggunakan metode
(2) Tujuan pengajaran yang akan dicapai
(3) Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa
(4) Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya
(5) Sarana dan prasarana yang ada di sekolah
Berdasarkan kutipan tersebut, berarti metode bermain peran adalah metode pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan/atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan demikian metode bermain peran adalah metode yang melibatkan siswa untuk pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan.
Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Endang Komara, mengatakan bahwa : Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan
Model Sajian Situasi merupakan kerangka prosedural pembelajaran yang menggunakan simulasi sebagai pemicu (trigger) belajar. Materi yang disajikan bukanlah konsep yang abstrak secara verbal tetapi situasi yang dibuat mencerminkan suatu konsep. Peserta didik dikondisikan untuk dapat menangkap konsep itu melalui proses analisis situasi yang disimulasikan.
Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, actual, kejadian-kejadian yang muncul
pada masa mendatang. Contoh topik yang diangkat kejadian seputar G30S PKI, memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai atau gambaran keadaan yang mungkin pada abad teknologi informasi (Wina Sanjaya, 2006)
Metode simulasi adalah metode pengajaran yang digunakan dalam proses belajar berupa tingkah laku dengan tujuan orang tersebut dapat mempelajari lebih dalam tentang bagaimana ia merasa dan berbuat sesuatu atau suatu metode pengajaran dimana siswa memerankan tugas orang lain dalam dirinya sebagai tiruan (Thoifuri, 2008).
Bagi guru inisiator metode ini perlu mendapat tersendiri dalam rangka membentuk kemampuan siswanya untuk terpacu menjadi public figure sesuai yang diperankan anak didik dalam kehidupan kelak.
Metode bermain peran adalah bentuk permainanan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan perasaan sikap dan tingkah laku dan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan untuk menghayati perasaan sudut pandang dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain (Depdiknas 1998).
Terdapat beberapa asumsi dalam model pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Mulyasa, menyatakan bahwa: terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran keempat asumsi tersebut, yaitu :
(1) Bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ”di sini pada saat ini”,
(2) Bermain peran memungkinkan para siswa untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain, tujuan mengungkapkan perasaan adalah mengurangi beban emosional,
(3) Bermain peran, berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan masalah tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa juga muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal, dan
(4) Model bermain peran, berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para siswa dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah (Mulyasa, E, 2005)
Persiapan metode bermain peran :
1. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
2. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan
3. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi peranan yang akan dimainkan oleh para pemeran serta waktu yang disediakan
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeran simulasi (Wina Sanjaya, 2006)
Langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah :
a. Mempersiapkan situasi untuk memulai drama
b. Menjelaskan kepada anak-anak apa yang diharapkan dari hasil dramatisasi yang dilakukan
c. Menugaskan untuk memegang peranan tertentu kepada anak-anak
d. Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan para pelaku
e. Pelaksanakan drama
f. Menilai drama secara bersama-sama antara guru dan siswa (M. Basyirudin U., 2002)
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan langkah-langkah dalam metode bermain peran menurut adalah sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan rencana pembelajaran
b. Guru membuat skenario yang akan ditampilkan atau diperankan
c. Guru membentuk kelompok atau menentukkan pemeran
d. Guru menentukkan pemeran utama dan pemeran figure
e. Guru mengamati jalannya pertunjukan tersebut
f. Guru menanyakan tanggapan terhadap pemeranan siswa
g.Guru memberikan penilaian terhadap pemeran-pemeran dalam skenario
h. Guru mengadakan triangjulasi
Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengekspresikan hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi model ini berupaya membantu peserta didik menemukan makna dari lingkungan sosialnya yang bermanfaat bagi dirinya. Juga melalui model ini para siswa diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelasnya. Sedangkan dari dari dimensi sosial, model pembelajaran bermain peran memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi sosial, terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi siswa














 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Sasaran penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.2 SMP Negeri 13 Kendari, semester genap tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 31 orang yang terdiri dari  13 siswa perempuan dan 18 orang siswa laki-laki. Kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian berdasarkan observasi pendahuluan bahwa sekitar 80 % memliki masalah dalam keterampilan speaking.
B.     Waktu dan tempat penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini dari bulan Desember 2010 sampai bulan Januari 2011, dan tempat penelitian di kelas VIII-2 pada SMP Negeri 13 Kendari
C.    Faktor – faktor Penelitian
Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka faktor yang ingin diselidiki adalah sebagai berikut :
1). Faktor siswa
            Ada dua faktor yang diselidi tentang siswa yaitu : (1) hasil belajar siswa dalam pembelajaran speaking ( transaksional / interpersonal text) yang diajarkan (2) Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
2). Faktor Guru
 Hal yang diselidiki pada guru adalah bagaimana mempersiapkan materi pelajaran apakah telah sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan, media/alat bantu yang digunakan, dan cara atau kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang menggunakan teknik bermain peran (role playing)
19
 
D.    Prosedur Penelitian
D.   
dst
Analisis Dan refleksi
Siklus 2
Perbaikan Rencana
Tindakan
Siklus 1
Analisis dan refleksi
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan terdiri atas dua (2) siklus. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai seperti pada faktor-faktor yang diselidiki. Selanjutnya, dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan : (1) perencanaan (planning); (2)pelaksanaan tindakan (action); (3) observasi dan evaluasi (observation and evaluation);dan (4) refleksi (reflection). 

           














Secara rinci,prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut.
1)      SIKLUS 1
a). Perencanaan
pada tahap ini tim peneliti mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam tahap perencanaan  ini adalah sebagai berikut : (1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bersesuaian dengan kompetensi dasar 9.2 Mengungkapkan makna dalam perccakapan transaksional (to get thing done) dan interpersonal (bersosialisasi) pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat yang melibatkan tindak tutur: meminta, memberi persetujuan, merespon pernyataan, memberi perhatian terhadap pembicara, mengawali, memperpanjang, dan menutup percakapan telpon. (2) Membuat scenario bermain peran tentang percakapan dalam telpon. (3) Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS), (4) Membuat lembar observasi tentang kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar, (5) Menyusun angket siswa untuk melihat tingkat minat siswa terhadap model /teknik bermain peran alam pembelajaran speaking, (6) Mendesain alat evaluasi atau tes hasil belajar untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi speaking setelah siswa mengikuti kegiatan pembelajaran.

b). Tindakan
        Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan Rencana     Pelaksanaan Pembelajaran RPP-01 tentang ungkapan meminta,memberi persetujuan dan memberi perhatian terhadap pembicara/orang lain melalui percakapan dalam telpon, yang telah di buat oleh peneliti dan di amati oleh dua orang guru lain yang bertindak sebagai observer
c). Observasi dan Evaluasi
       Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti dan dua guru yang bertindak sebagai observer bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan aspek- aspek yang diteliti. Pada akhir pelaksanaan tahap ini tim peneliti melakukan evaluasi sejauh mana guru telah menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan tes performance berdasarkan materi yang telah diajarkan
d). Refleksi
     Peneliti melaksanakan diskusi untuk merefleksi hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan. Refleksi ini dilakaukan untuk mengkaji keunggulan dan kelemahan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah-langkah pada siklus berikutnya.



e). Indikator Kinerja
                        Penelitian Tindakan Kelas ini dikatakan berhasil bila hasil belajar siswa mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 70 , dengan ketentuan bahwa 75 % siswa mencapai nilai NKM 70
2)      SIKLUS II
a). Perencanaan
 kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan pada siklus II ini adalah sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi kelemahan atau hal-hal yang belum tercapai pada siklus I untuk disempurnakan lebih lanjut, (2) Meninjau kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berupa RPP 02 tentang meminta, memberi menolak barang, menolak jasa , meminta informasi ,dan meminta, memberi dan menolak pendapat dalam telpon, untuk diimplementasikan pada siklus II yang rencana pelaksanaannya sebanyak 2 kali tatap muka.
b). Tindakan
      Kegiatan yang dilaksankan dalam tahap ini adalah melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada RP 02 . Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru (peneliti) sebagai guru model. Dengan langkah- langkah pembelajaran yang sesuai dengan RPP (kegiatan pendahuluan , inti dan kegiatan penutup)
c). Observasi dan Evaluasi
      Pada  tahap ini dilaksanakan kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti dan dua guru dan satu pembimbing yang bertindak sebagai observer. Pada akhir pelaksanaan tahap ini dilakukan evaluasi untuk mengetahui penampilan guru, model dan prestasi belajar siswa berupa test hasil belajar.
d). Refleksi
      Peneliti melaksanakan diskusi dan refleksi berdasarkan hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan. Refleksi ini dilakukan untuk mengkaji keunggulan dan kelemahan yang di pandang ada dalam pelaksanaan tindakan.
e). Indikator Keberhasilan
      Indikator keberhasilan proses pada siklus II apabila siswa telah mencapai KKM atau ketuntasan minimal yaitu 70 secara klasikal mencapi 75 %.
E.     Data dan Teknik Pengumpulan Data
1.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru
2.      Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :
a.      Observasi
Teknik observasi dipergunakan untuk menjaring data penelitian dengan menggunakan lembar pengamatan yang sesuai. Kegiatan observasi dilakukan untuk memperoleh data kemampuan gurudalam pengelolaan pembelajaran dan aktivitas siswa
b.      Angket
Penggunaan angket ini dipakai untuk memperoleh data dan informasi tentang tingkat keberminatan siswa terhadap teknik pembelajaran speaking yang digunakan saat pembelajaran pada penelitian tindakan kelas ini
c.       Tes Hasil Belajar
Tes digunakan untuk  mengetahui ketuntasan dan pencapaian KKM. Penentuan ketuntasan hasil belajar siswa ini berdasarakan analisi KKM untuk kompetensi dasar yang diajarkan.
F.     Teknik Analisis Data
1.      Analisis Deskriptif Pengamatan Aktivitaas Siswa
Data hasil pengamatan aktivitas siswa dianalisis dengan menghitung frekuensi dan prosentase masing-masing aktivitas yang muncul selama pembelajran , yaitu banyaknya frekuensi setiap aktivitas dibagi dengan seluruh frekuensi tiap aktivitas dikali 100.
Persentase aktivitas siswa perkategori aktivitas selama pembelajaran dihitung dengan menggunakan rumus :
                                                                     P
                        Persentase aktivitas siswa = Qx100%
Keterangan :
P = Frekuensi aktivitas siswa perkategori yang teramati oleh pengamat
Q = jumlah aktivitas seluruh siswa selam pembelajaaran berlangsung


2.      Analisis Tes Hasil Belajar
Analisis tes hasil belajar dilakukan untuk mengetahui ketuntasan  belajart siswa dengan patokan pada nilai ketuntasan minimal (KKM) pada kompetensi dasar. Untuk menetukan ketuntasan belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai beriut :
      KB =  X 100                                      ( Muhammad, 2003 : 104)
Keterangan :
KB = Ketuntasan Belajar
T   =  jumlah skor yang diperoeh siswa
=jumlah skor total
Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya ( ketuntasan individu) jika nilai perolehan siswa telah mencapai KKM atau jika T/Tt x 100  72,22 pada kompetensi dasar tersebut.
3.      Analisis Deskriptif Pengamatan Kemampuan Guru dalam Kegiatan Pembelajaran
Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kegatan pembelajaran dianalisis dengan menghitung skor rata-rata setiap aspek peniliain keterlaksanaan kegiatan pembelajaran.






BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Penelitian Tindakan
1.      Pelaksanaan Sklus I
Pada sklus I yang telah dlaksanakan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan pada tahap persiapan yang berupa bahan berupa skenario percakapan dalam telpon , rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), instrumen hasil belajar (evaluasi formatif). Sedangkan untuk mengamati keterlaksanaan proses pembelajaran dilakukan pengamatan terhadap aktvitas siswa dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
a.       Pengamatan aktvitas siswa pada siklus I
Tatap muka pertama dlaksanakan pada hari selasa tanggal 11 Januari 2011, pukul 10.20 – 12.20 . pada menit-menit pertama, guru mengajak siswa berdiskusi tentang pembelajaran speaking yang sudah sering mereka lakukan yaitu dengan cara mengikuti guru untuk melafalkan kata demi kata atau kalimat demi kalimat dari suatu teks yang disajikan. Kemudian guru mengenalkan teknik berman peran untuk meningkatkan penguaasaan ketrampilan speaking khususnya untuk jenis teks transaksonal/interpersonal
27
Selama proses kegatan berlangsung ,guru memperhatikan , membimbing, serta mengarahkan siswa , baik secara perorangan atau secara kelompok , dan juga memberi penilaian pada saat bermain peran berlangsung dengan menggunakan lembar penilaian proses.
Berdasarkan hasil wawancara melalui angket (tabel 4.5) tentang kegiatan pembelajaran , diperoleh gambaran secara umum bahwa siswa sangat antusias dengan cara belajar yang menggunakan teknik bermain peran.
TABEL 4.5
ANGKET SISWA
Berilah tanda cheklis () pada kolom jawaban yang tersedia sesuai dengan pendapatmu.
Pilihan jawaban terdiri dari sangat setuju (SS),setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju(STS). Isilah seluruh pertanyaan tersebut dengan sejujur-jujurnya.jawabanmu tidak akan mempengaruhi nilai bahasa inggrismu.
No.
Pertanyaan
SS
S
TS
STS
1.
Pembelajaran bahasa inggris khususnya speaking dengan menggunakan teknik role playing menarik bagi saya




2.
Pembelajaran dengan role playing membuat saya lebih mudah memahami materi




3.
Saya merasa senang dengan pembelajaran role playing




4.
Pembelajaran dengan role playing membuat saya merasakan secara nyata fungsi bahasa sebagai alat komunikasi




5.
Saya senang mempratekkan ungkapan bhs inggris yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari




6.
Pembelajaran dengan role playing membuat saya berani mengemukakan pendapat




7.
Masalah yang disajikan dapat dipahami setelah dibaca berulang-ulang




8.
Kesempatan berdiskusi dengan teman satu kelompok atau teman satu kelas  memudahkan saya dalam memecahkan masalah




9.
Saya merasa tegang pada saat pembelajaran dengan role playing




10.
Pembelajaran dengan role playing sangat membosankan




11.
Saya lebih senang menentukan sendiri pembentukan kelompok




12.
Saya merasa cepat putus asa apabila tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan




13.
Guru sangat membantu apabila siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal




14.
Saya ingin materi yang lain diajarkan dengan metode role playing




                                                                                                            Kendari, ...Januari 2011
                                                                                                                        Responden
Berdasarkan data atau hasil temuan yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran dengan materi ungkapan   meminta,memberi,menolak persetujuan ,memberi perhatian kepada orang lain dalam sebuah percakapan dalam telpon,peneliti menganalsis bahwa pembelajaran siklus I ini sudah dilaksanakan sesuai perencanaan. Tetapi masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan,diantaranya masih ada siswa yang kurang antusias dalam memainkan peran sehingga masih tampak ketidak-sungguhan dan kurang ekspresif dalam memainkan perannya.
Siswa juga masih kurang aktif dalam memainkan peran tersebut karena siswa masih takut dan malu-malu serta mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata Bahasa Inggris. Bahkan dalam melakukan peran ,banyak siswa yang mengganggu pemain lain dan situasi di kelas sangat ribut karena beberapa kelompok masih melakukan latihan , sehingga siswa sulit dalam mengekspresikan diri pada saat bermain peran dengan baik. Selain itu terdapat beberapa siswa yang masih belum hafal teks yang harus diucapkan. Beberapa diantaranya masih harus membaca teks saat bermain peran.
Akitvitas siswa selama kegiatan pembelajaran diamati oleh pengamat dengan menggunakan instrument pengamatan aktivitas siswa. Hasil pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar dideskripsikan dalam bentuk persentase. Hasil pengamatan aktivitas siswa pada pertemuan pertama dan kedua siklus I disajikan dalam tabel 4.1 berikut



                 Tabel 4.1 Analisis Aktivitas siswa pada pelaksanaan PBM

NO.

Aktivitas Siswa
Persentase (%)
Pert. 1
Pert. 2
Rerata
1.       
Mendengarkan /memperhatikan penjelasan guru
15,6
9,7
12,65
2.       
Membaca materi ajar  /LKS
16,3
9,3
12,8
3.       
Menulis (yang relevan dengan KBM)
12,5
14,0
13,25
4.       
Bekerja sama menyelesaikan tugs dalam kelompok
13,8
17,0
15,4
5.       
Melakukan latihan performance berdasarkan skenario
12,9
18,3
15,6
6.       
Memperhatikan penampilan teman yang sedang bermain peran
6,7
8,0
7,35
7.       
Merangkum/menyimpulkan materi pelajaran
7,1
8,3
7,7
8.       
Melakukan aktivitas lain yang tidak relevan



9.       
Berfdiskusi/bertanya jawab antar siswa dengan siswa dan siswa dengan guru
6,3
7,0
6,65

Berdasarkan tabel 4.1 di atas bisa dilihat bahwa rata-rata persentase tiap komponen aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran pada siklus I menunjukkan nilai yang bearvariasi dan beragam. Persentase komponen aktivitas siswa paling tinggi adalah Melakukan latihan performance berdasarkan skenario sebesar 15,6 % dan Memperhatikan penampilan teman yang sedang bermain peran sebesar 7,35 %. Ini menunjukkan bahwa teknik bermain peran dalam proses pembelajaran speakng sangatlah nampak dan berrdampak positif pada keaktifan siswa.

b.      Pengamatan Kemampuan guru dalam mengelola PBM pada siklus I
Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran selama pembelajaran speakng  berlangsung di amati oleh dua orang pengamat dengan menggunakan lembar pengamatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada pertemuan 1 dan 2 di siklus I. Kemampuan yang diamati pada guru menyangkut membuka pelajaran, kegiatan inti, dan menutup pelajaran, termasuk pembelajaran yang menerapkan teknik bermain peran. Rata-rata skor kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang diamati dalam pelaksanaan pembelajaran siklus Idapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2  Kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
No
Aspek yang diamati

Terlaksana
skor
ya
tidak
Pert.1
Pert 2
rerata

Pengamatan PBM






A.    Pendahuluan






1.    Memberitahukan SK,KD dan indikator






2.      Menuliskan topik pembelajaran
-
4.00
4.00
4.00

3.      Apersepsi dan motivasi
-
4.00
4.00
4.00
2
KEGIATAN POKOK






1.      Penyajian sesuai dengan urutan materi
-
3.50
3.75
3.63

2.      Metode/pendekatan sesuai dengan materi
-
4.00
4,00
4.00

3.      Keterlibatan siswa
-
3.00
3.00
3.00

4.      Bimbingan kepada siswa sebagai fasilitator
-
3.00
3.50
3.25

5.      Pengelolaan kelas
-
4.00
4.00
4.00

6.      Pengembangan ketrampilan siswa
-          merespon penjelasan teman
-          memberikan ide dalam kelompok
-          kekompakan dalam bekerja sama
-

3.00
3.00
3.00

7.      pelaksanaan sesuai dengan waktu
-          bermain peran dalam kelompok
-          bermain peran di depan kelas
-
3.00
3.50
3.25
3
PENUTUP






Memberi kesimpulan dan tugas rumah
-
3.50
3.50
3.50

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang dilakukan dengan menerapakan teknik bermain peran (role playing) terutama pada saat pembimbingan terhadap siswa yang berlatih bermain peran sesuai skenario yang telah disiapkan dapat terlaksana dengan baik
c.       Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I diperoleh nilai secara individu sebagai berikut : terdapat 26  siswa ( 83,87 %) yang mendapatkan nilai baik dengan kriteria pada kerja sama siswa mampu bekerja sama dengan baik dalam bermain peran, berekspresi dengan baik sesuai dengan tokoh yang diperankan , dan dapat melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris (pronounciaton) dengan baik pada dialog ; terdapat 6 siswa  ( 19,35 %) yang mendapatkan nilai kurang pada kerja sama siswa mampu bekerja sama dengan baik dalam bermain peran,
berekspresi dengan kurang baik sesuai dengan tokoh yang diperankan , dan kurang baik melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris (pronounciaton)
 Dalam hal ini, guru menentukan kriteria penilaian pada pembelajaran speaking dengan menggunakan teknik role playing sebagai tolak ukur pencapaian tingkat keberhasilan siswa, yaitu : nilai sangat baik (A) bagi siswa yang dapat bekerja sama dengan sangat  baik dalam bermain peran (termasuk accuracy), siswa dapat berekspresi dengan sangat baik sesuai tokoh yang diperankan, dan siswa dapat melafalkan dengan sangat baik kata-kata bahasa Inggris pada dialog,  yang ditandai dengan perolehan skor nilai antara   81 - 100   ; nilai baik (B) bagi siswa yang dapat bekerjasama dengan baik dalam bermain peran, siswa dapat berekspresi dengan baik sesuai dengan tokoh yang diperankan, dan melafalkan kata-kata bahasa Inggris dengan baik pada dialog yang ditandai dengan perolehan skor nilai antara         70- 80 ; serta nilai kurang (K) bagi siswa yang dapat bekerjasama dengan baik dalam bermain peran, siswa kurang baik dalam berekspresi sesuai dengan tokoh yang diperankan, dan siswa kurang baik dalam melafalkan kata-kata bahasa Inggris pada dialog yang ditandai dengan perolehan skor nilai kurang dari 70
Untuk mengetahui hasil belajar setelah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, maka peneliti melaksanakan evaluasi yang dilaksanakan pada akhir kegiatan tatap muka dengan menggunakan test performance. Berdasarkan indikator keberhasilan pada penelitian ini, maka keberhasilan pada kegiatan pembelajaran di siklus I  tercapai karena 26 siswa dari 31 siswa atau 83,87 % siswa sudah memperoleh nilai di atas KKM yaitu 70
Adapun analisis ketuntasan hasil belajar siswa pada materi speaking untuk jenis teks transaksional / interpersonal dengan ungkapan meminta,memberi,menolak persetujuan ,memberi perhatian kepada orang lain dalam sebuah perecakapan dalam telpon, dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4.3 Data analisis ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I
DAFTAR NILAI SPEAKING
Kelas : VIII.2
KKM = 70
No.
Nama
Aspek Penilaian SPEAKING
Jumlah score
Jumlah nilai
KETERANGAN
accuracy(30%)
Fluncy (30%)
Expression (40%)
1
ADE FITRA
3
3
3
9
75
TUNTAS
2
ANDI AN-NISA
3
3
3
9
75
T
3
ANDI TENRI
3
3
3
9
75
T
4
ARDIANSYAH
3
2
2
7
58,33
TT
5
ASKING N.
3
3
3
9
75
T
6
DARMI
3
2
3
8
66,67
TT
7
EDI HERMAWAN
3
3
3
9
75
T
8
EPHI TRIANTI
3
3
3
9
75
T
9
HERMAN MAMAN
3
3
3
9
75
T
10
HIDAYATULLAH
3
3
3
9
75
T
11
IMAM
3
2
2
7
58,33
TT
12
IRFAN BUDIANI S.
3
3
3
9
75
T
13
ISRAWATI
3
3
2
8
66,67
TT
14
KARMILA
3
3
3
9
75
T
15
MUH.ADIARNO
3
3
3
9
75
T
16
MUH.ASWAD
3
3
3
9
75
T
17
M.ARHAM
3
3
3
9
75
T
18
MARGALAE
3
3
3
9
75
T
19
MUH,ZALDI ZAIN
3
3
3
9
75
T
20
MUH.PRARIDO
3
3
3
9
75
T
21
NIRMALA
3
3
3
9
75
T
22
NURMANSYAH
2
2
2
6
50
TT
23
PATMAWATI
3
3
3
9
75
T
24
RIKA ADRIANI
3
3
3
9
75
T
25
SAHRUL S.
2
3
3
8
66,67
TT
26
SARMIDA
3
3
3
9
75
T
27
UMI RAHMAYANTI
3
2
3
8
66,67
TT
28
WD,MURNIA
2
3
2
7
58,33
TT
29
WD.NURIANA
2
3
3
8
66,67
TT
30
WIRANTO
2
3
3
8
66,67
TT
31
YUSLAN
2
2
2
6
50
TT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar